Kreativitas bersifat unifersal, tak terbatas sekat sekat kasta dan status sosial seseorang. Kreativitas tak hanya monopoli para pekerja kreative, sinema, seniman, artis dan selebiti.
Bagi seniman sejati, media apapun yang ada bisa menjadi inspirasi dan media kreativitas. Ide mereka liar menembus ruang dan waktu.
Gambar dan coretan tulisan di samping menceriterakan kebenaran akan hal itu. Sebuah truk bak warna kuning pengangkut pasir dan batu dengan plat nomor polisi B 3214 JK sedang melintas di tol dalam kota. Truk doble ban (6 ban) rakitan sekitar tahun 90′an ini nampak sudah agak tua dan rapuh, namun ide nya cukup segar dan merangsang.
Karena tergelitik gambar dan tulisannya, sepertinya layak untuk ditulis kedalam blog, maka sayang apabila dilewatkan untuk di ambil fotonya.
Di dinding belakang truk bak kayu terbuka sering dijadikan media ajang kreativitas para raja jalanan ini. Seperti tampak sebuah tulisan ringan, “seberat berat rindumu, masih berat muatanku”.
Di bawahnya terpampang wajah seorang perempuan setengah baya yang tersenyum manja. Disebelahnya terpampang tulisan tegas dan besar, “lali rupane eling rasane”.
Tulisan yang sedikit nakal ini memang “debatable”. Apakah gerangan maksud sebenarnya dari tulisan tersebut ?
Makna dari sebuah tulisan itu sangat bermacam macam, tergantung dari konteks dan sudut pandang pembaca. Bagi pecinta kuliner, tentu tulisan tersebut akan membawanya berkelana ke restoran restoran dan rumah makan. Tulian itu sontak membawa alam bawah sadar mereka berkelana ke seluruh pelosok negeri. Angan mereka menerawang jauh ke masakan masakan khas daerah tertentu yang pernah mereka nikmati, namun lupa dimana dan apa nama masakan tersebut.
Beda halnya bila yang membaca seorang “penggila pornografi”. Mereka umumnya langsung mengaitkan tulisan tersebut pada konteks pornografi dan pornoaksi. Umumnya mereka langsung menjustifikasi bahwa lukisan perempuan tersebut adalah pekerja seks komersial (PSK).
Ada uangkapan bahwa lukisan itu berjuta makna.







