Sebuah lapangan tennis milik PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) yang terletak di areal Stasiun Manggarai, setiap sore disulap menjadi sebuah lapangan futsal. Anak anak penggemar olahraga ini selalu memanfaatkan satu satunya sarana olah raga ini untuk bermain.
Lantai dasar lapangan ini sengaja dirancang untuk permainan tennis, bukan untuk lapangan futsal. Namun hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk menyalurkan hobi bermain bola.
Pertanyaannya adalah, mengapa mereka nekat menggunakan lapangan tennis untuk futsal ? Ada beberapa sebab mengapa mereka melakukannya, yaitu :
Pertama, umumnya warga manggarai adalah pendatang dari seluruh pelosok nusantara dan mayoritas mereka termasuk golongan “miskin kota”. Profesi utama masyarakat disini umumnya sebagai pemulung. Mereka mengais rejeki dari barang bekas yang dibuang warga. Selain sebagai pemulung, profesi lain diantaranya adalah, pedagang kaki lima, pedagang asongan di kereta api, tukang parkir dan non “educated job” lainnya.
Dilihat dari segi penghasilan, mereka tentunya tidak punya cukup uang untuk menyewa lapangan futsal yang lebih baik dan representatif. Harga sewa lapangan untuk bermain futsal terbilang sangat mahal, hanya masyarakat ekonomi menengahlah yang mampu untuk membayarnya. Selain itu, lapangan yang bisa disewa pun tidak ada di daerah ini.
Kedua, kelurahan manggarai termasuk area yang sangat padat penduduk. Perumahan (gubug) berjejer di sepanjange pinggiran kali ciliwung, seringkali disebut sebagai penghuni bantaran kali. Bahkan, di satu RT (Rukun Tetangga) ada yang beranggotakan lebih dari 500 jiwa. Idealnya, satu Rukun Tetangga itu 200 jiwa.
Dilokasi bantaran kali ini hampir hampir tak ada ruang kosong. Seluruh jalur hijau yang kepereuntukannya buat sarana sosial pun telah berubah fungsi menjadi perumahan kumuh. Tidak ada ruang terbuka hijau bagi anak anak untuk bermain. Oleh sebab itu, terpaksalah mereka menggunakan lapangan tennis untuk bermain futsal.







