Entah mengapa aku ingin sekali menuliskan pengalamanku sendiri sewaktu kelas satu disalah satu SMP Negeri di kabupaten Blora. Sebuah sekolah yang unik, penuh kenangan yang tak kan pernah terlupakan. Sekolah dengan arsitektur era penjajahan belanda. Disitulah saya menempa ilmu kehidupan yang sangat berguna hingga kini.
Saya bukanlah seorang anak “gaul” kala itu. Tergolong pelajar yang biasa biasa saja, pemalu, dan rendah diri. Masih teringat di rapor tertulis dengan tinta merah, Bahasa inggris di rapor nilai 4, IPA nilai 5, Matematika nilai 5 dan PMP nilai 5. Ranking kelas pun tak pernah beranjak dari 3 besar dari bawah.
Teman teman yang cerdas digelari “siswa teladan”, sedangkan aku sendiri sebagai siswa “telat dan – lain lain”. Maksudnya adalah sering telat, sering di setrap, sering ketiduran di kelas, dan seabrek predikat negatif lainnya.
Hal yang paling aku ingat adalah ketika aku tak memiliki pena untuk menulis. Saya tak tahu harus kemana untuk mendapatkannya. Pingin meminjam ke teman, namun tak mampu kulakukan karena malu terlalu sering meminjam.
Ingin rasanya membeli sebuah pena yang seharga Rp. 100,- kala itu. Namun di saku celanaku tak pernah sekalipun kutemukan uang koin itu.
Saya tak tahu harus bagaimana menjelaskan hal ini jika nanti guru menanyakan perihal alat tulis. Dalam hati aku hanya menangis dan berdo’a semoga pertolongan Tuhan datang.
Pertolongan Tuhan akhirnya datang juga. Aku temukan isi pena di salah satu sudut ruang kelas. Tentunya itu adalah isi pena seorang teman yang sudah dibuang karena sudah rusak atau tidak bisa digunakan lagi. Aku ambil dan mencoba mencoretkannya di atas telapak tanganku dan ternyata isi pena itu masih berfungsi dengan baik.
Akhirnya dengan riang gembira aku cari sesobek kertas dan aku gulungkan beberapa helai pada isi pena tersebut. Akhirnya jadilah aku memiliki sebuah pena.
Walaupun pena itu jelek, namun fungsinya sama saja dengan pena yang mahal. Melihat ini semua teman teman yang tahu pun beragam komentarnya. Ada yang positif mengapresiasi namun mayoritas mengejek dengan nada sinis.
Aku tak perduli dengan semua hinaan itu dan kuhadapi dengan tegar. Kini aku sadar bahwa seluruh teman temanku yang mengejek kala itu ternyata adalah “guru kehidupanku”. Tanpa cemoohan mereka, tentunya saat ini aku masih menjadi manusia biasa biasa saja.
Untuk memotivasi diri, disetiap bangun pagi aku katakan “aku manusia biasa, namun aku bukan manusia biasa biasa saja”
Pelayaran yang bisa aku dapatkan dari pengalaman ini adalah :
- Tuhan tidak akan membiarkan kesulitan yang dihadapi makhluk ciptaannya. Yakinlah bahwa pertolongan Nya pasti akan datang di akhir sebuah ikhtiar.
- Jangan pernah menyerah pada kondisi sesulit apapun. Sedikit berfikir positif dan kreatif akan menyelesaikan permasalahan sebesar apapun itu.
- Ejekan, cemoohan dan stigma negatif mestinya menjadi cambuk kita untuk maju dan berjuang untuk masa depan yang gemilang.
- Tidak penting betapa tidak gaulnya kita ketika sekolah, tidak penting seberapa bodohnya kita dikelas dahulu, tidak penting berapa nilai akademik yang kita dapatkan dahulu. Yang terpenting adalah pencapaian prestasimu saat ini.
- Kesuksesan bukan hak orang orang yang terlahir kaya. Kesuksesan bukan hak orang orang yang dianggap “pandai dan teladan”. Kesuksesan adalah hak kita semua. Untuk mewujudkannya hanya dibutuhkan sedikt usaha.








