Pelanggan Seumur Hidup

Kejadian ini sekitar delapan tahun yang lalu, ketika sebuah bisnis baru mulai dirintis. Ceritera lama yang mungkin sudah usang namun nikmat untuk dikenang. Karena ini menginspirasi minimal untuk diri saya sendiri,  senang  rasanya bisa berbagi cerita dengan sahabat terbaik.

Saya adalah saksi  pengalaman hidup seorang teman tentang bagaimana mendapat “pelanggan seumur hidup”.

Sebuah perusahaan kecil di daerah ciracas – Jakarta Timur, sebut saja namanya CV. CI Express. Berkantor di sebuah rumah petak dengan  tiga ruangan berukuran 3 x 9 m2. Ruang depan dipakai untuk kantor sedangkan ruang belakang digunakan sebagai rumah pemilik perusahaan. Berada di gang sempit yang becek dan kumuh. Jangankan mobil, motor pun tak bisa menjangkaunya.

Kebetulan sang owner (sebut saja namanya NANANG) adalah sahabat terbaik, guru kehidupan dan motivator saya. Dalam hal prinsip dan  kejujuran berbisnis saya tidak akan meragukannya lagi.

Suatu ketika saya sedang bertamu ke kantor, tampak di wajah kurus keringnya dengan segurat kelelahan. Ia baru saja pulang dari pelanggan, katanya.

Diruang 3 x 2,5 m2 itu, terjadilah percakapan menginspirasi ini :

Saya : Darimana nang, kok kelihatan capek banger.

Nanang : Biasa mbang, dari Grogol untuk ambil barang Induro. Alhamdulillah sih hari ini ada kiriman lumayan banyak.

Saya : Mantebs nih boss. Kirim kemana ?

Nanang : Ke Tokyo – Jepang.

 

Sejenak dia termenung dan kita sama sama diam. Beberapa saat kemudian ia menambahkan, “tapi ada masalah sedikit nih mbang”

 

Saya : Masalah apa ? kok kelihatannya berat banget. Bisa saya bantu.

Nanang : Begini mbang, kemarin Ibu Lucia (PIC Induro) kirim fax ke saya tentang  SI (shipping instruction). Disitu tertulis  bahwa hari ini ada  kiriman barang  ke Tokyo beratnya 1,235 kg, sebanyak 10 colly.

Saya : Lalu apa masalahnya ?

Nanang : Begini mbang masalahnya. Pagi tadi aku sewa angkot untuk pick up kiriman ini. Di surat jalan tertera bahwa   berat barang adalah 1,235 kg sebanyak 10 colly. Tapi, sesampai dirumah saya timbang ulang ternyata bobotnya hanya 833 kg. Berarti ada kelebihan berat barang sebesar  402 kg.

Saya : waow…. untung banyak kamu hari ini Nang, itu mungkin rejeki keluargamu.

Nanang : Ndak mbang…, saya harus beritahukan hal ini pada ibu Luciana. Ini bukan hak saya. Memang benar  sih, uangnya luar biasa banyaknya. Tapi saya takut dosa mbang.

Saya : Sudahkah kamu  fikir masak masak ? Nanti takutnya mereka malah mencurigaimu sering bermain main berat barang loh.

Nanang : Yah…. kalau itu terjadi, biarlah Tuhan yang mengatur.

 

Percakapan kami terhenti. Segera Nanang telpon Ibu Lucia dan berdiri agak menjauh. Sehingga  sama sekali saya tidak bisa mendengarkan apa pembicaraan mereka. Yang bisa aku lihat adalah wajah ketegangan di raut mukanya.

Setelah nanang selesai menelepon, saya beranikan bertanya “ada masalah nang ?’

Nanang : Ada mbang, …. kiriman tidak bolek dikirim dulu, besok jam sembilan  pagi saya dipanggil untuk menghadap ke managernya.

Saya : Itu kan biasa nang, lantas kenapa kamu murung begitu ?

Nanang : Begini mbang, tadi yang bicara sama saya itu GM nya Induro. Dia marah marah dan mengatakan apakah ada persekongkolan tentang ini semua ?

Saya : Lalu, apa kamu bilang ?

Nanang : Ya saya jawab seadanya lah mbang, wong saya bicara apa adanya kok.  Demi Allah mbang, saya tak ada persekongkolan mark up berat atau mark up harga. Yang saya lakukan adalah  adalah bisnis murni, tak ada kolusi didalamnya.

 

Lalu kami pun terdiam. Saya tidak berani menanyakan hal lebih jauh, karena itu akan membebani fikirannya. Akhirnya aku pamit pulang dan tak lupa mengatakan padanya untuk tetap tabah dan sabar. Kami pun berpisah sore itu.

Seminggu kemudian kami bertemu kembali di rumahnya. Kebetulan ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Setalah dipersilahkan masuk dan minum kopi, akhirnya saya menanyakan kabar permasalahannya tempo hari.

Saya : Bagaimana kemarin Induro nang ?

Nanang : Alhamdulillah….

Saya : Maksudmu apa ?

Nanang : Begini mbang, kemarin GM nya marah marah itu sebenarnya bukan ditujukan kepadaku, melainkan kepada staf stafnya yang teledor. Akibat kejadian ini, mereka mengadakan rapat besar setingkat manager untuk mencari solusi. Ternyata disana kejadian seperti ini seringkali terjadi dan tidak jelas siapa yang mesti  bertanggungjawab.

Atas dasar pengakuan saya, terbongkarlah semua. Yang baik dan yang berkolusi semuanya terbongkar, tidak ada yang ditutup tutupi. Akhirnya saya dipanggil dan diminta untuk menjelaskan semua hal  tentang cargo. Mekanisme, alur barang dan metoda check – rechecknya.  Aku coba ceriterakan semua yang saya mampu.

Atas dasar meeting kemarin itu akhirnya mereka saat ini mampu membuat SOP “standard Operational procedure” pengiriman barang.

Saya : Lalu bagaimana  kiriman selanjutnya ?

Nanang : Alhamdulillah. Ditengah tengah  meeting  GM nya mengambil keputusan  bahwa seluruh kiriman harus lewat CV. CI Express. Tidak boleh lagi lewat vendor yang lain.

Saya : Luar biasa kamu kawan…. Mantabs… mantabs…. mantabs,…. Kejujuran memang mahal harganya.

Nanang : Terimakasih sobat…. Semoga Induro bisa menjadi pelanggan saya seumur hidup.

Saya : Itu pasti !

 

If you liked this post, say thanks by sharing it
Our Business
Follow Me
FacebookFlickrGooglePlusLinkedInTwitterYoutubeRSS
Archives
No Comments - Leave a comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Welcome , today is Sunday, May 20, 2012