•  
  • Inspirasi
  • Kegagalan Milik Mereka yang Terlalu Peduli Terhadap Pendapat Orang Lain

Kegagalan Milik Mereka yang Terlalu Peduli Terhadap Pendapat Orang Lain

Alkisah ada seorang bapak dan anak  hendak bepergian jauh. Untuk sarana transportasi, mereka membawa serta seekor keledai. Fungsinya untuk membantu mengangkut barang perbekalan dan bisa juga dikendarai.

Singkat cerita, berangkatlah  mereka berdua dari rumah.  Sang anak menaiki keledai sedangkan sang ayah berjalan sambil memegangi tari pelananya.

Setelah beberapa jam berjalan kaki mereka bertemu dengan seseorang. Seperti biasa mereka saling   bertegur sapa dan saling menanyakan tujuan mereka masing masing. Sebelum melanjutkan perjalanan, orang tadi  berkata, “eh nak… kenapa kamu tega membiarkan bapakmu berjalan, sementara engkau enak enakan di atas keledai ?” Kemudian ia menambahkan, “cobalah sedikit jadi anak yang berbakti pada orang tua, biarkan bapakmu naik keledai dan kamu jalan kaki”.

Setelah orang tersebut pergi, sepasang anak – bapak ini sejenak saling berpandangan,  suasana berubah menjadi hening. Tanpa diaba aba sang anak segera turun dari keledai dan mempersilahkan bapaknya untuk naik ke pelana.

Sekarang sang anak berjalan kaki sementara bapaknya naik punggung keledai, mereka pun melanjutkan perjalanan.

Setengah hari mereka tempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah telaga. Mereka menghampiri telaga yang jernih airnya. Sebelum sang bapak turun dari keledai datanglah seseorang setengah baya menghampiri. Mereka berkenalan, bertegur sapa, mengobrol bersama sambil melepaskan kelelahan selama perjalanan.

Tiba tiba orang tersebut berujar, “pak, kenapa bapak tega menyuruh anak untuk jalan kaki sementara bapak naik keledai ?” Lalu ia tambahkan, “kasihan anak bapak, seharusnya bapak bisa lebih bijak sebagai orang tua”.

Setelah mengatakan itu, orang tersebut langsung pamit dan meninggalkan anak bapak tersebut. Lagi lagi sang anak dan bapak saling berpandangan. Tak ada kata terucap diantara mereka.

Dalam keheningan itu  sang ayah memecah kesunyian dan berkata, “nak, marilah kita lanjutkan perjalanan”. “Kita naik keledai ini berdua, biar tidak ada lagi orang yang membicarakan kita dijalan nanti”. Sang anak pun hanya mengangguk. Segera mereka berdua naik ke pelana di punggung seekor keledai kecil.

Mereka berdua pun meneruskan perjalanan. Seekor keledai kurus kering ini sekarang  dnaiki  bapak, anak dan sejumlah perbekalan mereka. Karena beban berat, keledai pun tak bisa berjalan lebih cepat dari biasanya. Bahkan semakin lama semakin melambat.

Lagi lagi mereka bertemu dengan seseorang, saat ini yang mereka temui adalalah seorang penggembala kambing. Penggembala langsung bertanya, “wahai saudaraku, apakah kau tidak kasihan melihat keledai kurus kering ini ? Harus membawa beban yang begitu berat, ditambah lagi beban dua orang. Apa kamu tidak kasihan ?

Bapak anak ini akhirnya tersadar, betapa ia telah menyiksa seekor keledai dengan memberikan beban yang begitu berat. Dengan serta merta mereka loncat dari keledai. Sang bapak segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan sang penggembalan sambil berkata, “saudaraku, terimakasih telah engkau ingatkan akan kesalahanku”.

“sama sama,” jawab penggembala. “maaf saya harus segera pergi, semoga lain waktu kita bisa berjumpa lagi”, tambah sang penggembala sambil melambaikan tangan dan bergegas pergi.

Sang ayah dan anak sejenak tampak kebingungan. Kemudia sang anak bertaka, “ayah, daripada kita salah terus alangkah baiknya kita berdua berjalan”. “Selain kasihan pada keledai, toh jarak yang kita tempuh tinggal beberapa jam lagi” kata sang anak. Mendengar kata sang anak yang terkesan bijak, sang ayah pun nampaknya menyetujui akan hal itu. Merekapun bergegas melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sampailah mereka di ujung desa. Dari kejauhan tempat yang mereka tuju pun terlihat sudah. “beberapa saat lagi kita sampai nak”, gumam sang ayah. Sang anak menganggukkan kepala tanda setuju.

Tiba tiba munculah kepala desa dan segera  menghampiri mereka berdua. Setelah berjabat tangan dan bertegur sapa, kepala desa itu pun  berkata, “aku heran dimana letak akal sehatmu, kenapa tak kau kendarai keledai ini ?”

Setelah kepala desa berlalu, sang ayah bertanya pada anaknya, “nak, semua yang kita jalani kenapa tidak ada yang benar ya …?”

Hikmah dari ceritera singkat ini adalah :

  1. Jika kita meyakini sebuah kebenaran, jalani terus tidak usah berfikir tentang pendapat orang lain. Kebenaran manusia itu “relatif” tergantung dari sudut pandangnya. Kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan semata.
  2. Pendapat orang lain boleh didengar namun bukan sebagai rujukan untuk merubah sebuah keyakinan.
  3. Kegagalan adalah milik mereka yang terlalu peduli dengan pendapat orang lain.

 

If you liked this post, say thanks by sharing it
Our Business
Follow Me
FacebookFlickrGooglePlusLinkedInTwitterYoutubeRSS
Archives
No Comments - Leave a comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Welcome , today is Sunday, May 20, 2012